selamat malam

Rabu, 06 Juni 2012

MAKALAH AGAMA HINDU

                                                              .KATA PENGANTAR
         Puji syukur kepada Tuhan yang maha esa, karena atas limpahan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Dan ucapan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah agama lanjut, berkat bimbingan beliau penulis mampu menyusun makalah ini sedemikian rupa. Terima kasih pula kepada rekan-rekan yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini, semoga apa yang telah kita perbuat akan bermanfaat di suatu hari nanti.
         Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini, masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan yang perlu di benahi. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun dari dosen pembimbing dan pembaca sangat diharapkan, guna kesempurnaan makalah berikutnya. Saran dan kritik itu akan menjadi pedoman dan motivasi penulis di karya-karya berikutnya, sehingga akan menghasilkan karya yang lebih baik lagi.





                                                                                 Kendari,25  Desember 2011

                                                                                                          Penulis

DAFTAR ISI
 KATA PENGANTAR .........................................................................................
DAFTAR ISI ........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1    Latar Belakang ...........................................................................................1
1.2    Rumusan Masalah ......................................................................................1
1.3    Konsep ........................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................3
2.1 Bhuwana Agung ............................................................................................3
2.1.1 Pengertian Bhuwana Agung .......................................................................3
2.1.2 Proses Terciptanya Bhuwana Agung...........................................................3
2.1.3 Proses terjadinya Bhuwana Agung............................................................. 5
2.1.4 Unsur-unsur Bhuwana Agung .....................................................................7
2.1.5 Cloka dan Mitologi yang menyatakan penciptaan Bhuwana Agung.......... 8
2.1.6 Sebab-sebab terjadinya Pralaya Bhuwana Agung .......................................9
2.2 Bhuwana Alit ................................................................................................10
2.2.1 Pengertian Bhuwana Alit ...........................................................................11
2.2.2 Proses Terciptanya Bhuwana Alit ..............................................................13

BAB III PENUTUP .............................................................................................14
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................14
3.2 Saran ..............................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA


                                                                         BAB I
                                                                PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Keberadaan alam semesta ini “ Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit “ tidak dapat terlepas dari keberadaan Brahmana. Kurun waktu Brahmana menciptakan semua semua yang ada dimulai pada masa srsti. Suatu saat bila beliau menghendaki maka yang semua ada ini kembali kepada asalnya. Periode ini disebut dengan istilah pralaya. Kapan semuanya itu terjadi, tidak seorang pun dapat mengetahui secara pasti. Brahmana yang tunggal dan mengetahui semuanya ini sering disebut Sang Hyang Widhi Wasa. Beliau juga disebut dengan panggilan Tuhan Yang Maha Esa.
Umat hindu menyakini sepenuhnya bahwa Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa bersifat maha pencipta, pengasih dan pemurah. Beliau telah menciptakan alam semesta berserta isinya termasuk manusia. Dengan sifatnya yang maha pengasih,beliau memeliharasemua yang ada ini.Dan dengan sifatnya yang pemurah,beliau selalu mengampuni ciptaan-Nya yang selalu sujud dan bhakti.Pada alam semesta” Bhuwana Agung” semua jenis mahluk hidup termasuk manusia”bhuwana alit”hidup dan berkehidupan secara alami.

1.2    Rumus Masalah
1.    Jelaskan apa yang dimaksud dengan Bhuwana Agung?
2.    Jelaskan apa yang dimaksud dengan Buwana Alit ?

1.3    Konsep
Hindu adalah salah satu agama yang hidup yang berasal dari Asia selatan bersama dengan...Beberapa penganut menyembah Daya Alam dipersonifikasikan sementara yang lain menyembah berhala daerah setempat...Untuk mendapatkan keselamatan menurut ajaran Weda orang harus shalat,...Mereka yang memahami kebenaran ini akan mengalami keselamatan...
Hindu adalah tradisi keagamaan yang dominan dan asli benua India...Konsep "kekuasaan" yang diselenggarakan untuk berada di belakang alam dan yang membuat...Mereka didasarkan pada kepribadian dan ajaran individu, seperti dengan...yoga atas orang lain, sesuai dengan kecenderungan-nya dan pemahaman.Metafisika / Filsafat Diskusi Agama Hindu Keyakinan, dan...Seni adalah penciptaan ulang-selektif dari realitas metafisik menurut seorang artis nilai...bahwa kita dapat memahami Realitas dan interkoneksi dari semua hal di alam semes

                                                                        BAB II
                                                                 PEMBAHASAN

2.1    Bhuwana Agung

2.I.I Pengertian Bhuwana Agung

Bhuwana Agung adalah merupakan salah satu dari berbagai istilah yang dipergunakan dalam Agama Hindu untuk menyebutkan alam semesta atau alam raya ini. Bhuwana agung juga disebut dengan istilah “ Makro- kosmos,jagat raya, alam besar, Brahmanda”. Semua gugusan ,matahari, bintang, planet,bumi,bulan, dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut Bhuwana Agung.  
Kitab Brhad Aranyaka Upanisad, menjelaskan bahwa Bhuwana Agung diciptakan oleh Tuhan. Ida Sang Hyang Widhi Wasa  yang bersifat abstrak atau niskala dilukiskan kan dalam wujud personifikasi sebagai alam semesta ini.

2.I.2 Proses terciptanya Bhuwana Agung

Menurut ajaran agama Hindu dinyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari Bhatara.Ciwa. Beliau juga disebut Rudra yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Proses terjadinya alam semesta ini adalah secara bertahap. Dimulai dari tahap yang sangat teramat halus dan gaib berevolusi ke tahap yang semakin kasar atau nyata. Disebutkan ada dua belas tahapan atau jenjang yang disebut dengan yang istilah dalam proses penjadian alam semesta ini. Adapun kedua belas tahapan yang dimaksud antara lain: Bhatara Ciwa (Rudra), Sang purasa (Brahma), Awyakta (Wisnu), Budhi yang bersifat sattwa, Ahamkara yang bersifat rajah, pancatanmatra yang bersifat tamah,Manah,Akasa,Bayu,Agni,Apah,dan Prthiwi.
Sabda, Sparsa, Rupa, Rasa dan Gandha adalah bagian-bagian dari pancatanmatra. Sedangkan Akasa,Bayu,Teja,Apah,dan prthiwi adalah merupakan bagian-bagian dari panca Mahabhuta. Ke dua macam unsur “ Pancatanmatra dan panca Mahabhuta” inilah yang menjadi pembangun dari alam semesta “ Bhuwana agung ini. Bhuwana agung dan bhuwana alit memiliki unsur-unsur yang sama. Tuhan menciptakan alam semesta (Bhuwana agung) dan isinya (Bhuwana alit) berdasarkan. Dari tapanya muncullah dua kekuatan yang saling melengkapi. Tuhan menciptakan alam semesta (Bhuwana agung)dan isinya (Bhuwana alit) terdiri dari berbagai unsur. Diantara unsur-unsur disebutkan ada lebih rendah dan ada juga yang lebih tinggi. Unsur yang lebih rendah disebut unsur alam.sedangkan unsur yang lebih tinggi disebut unsur hidup. Bila kedua unsur itu bersatu dan merupakan satu kesatuan yang utuh disebut Tuhan Yang Maha Esa yang juga dikenal dengan sebutan “ Brahman”
Sebelum diciptakan alam semesta ini tidak apa-apa. Sebelum alam semesta diciptakan hanya Ida Hyang Widhi yang ada. Mahaesa tiada duanya pada mulanya tiada apa-apa. Yang ada hanyalah Tuhan yang disebut “ parama siwa” atau nirguna Brahma yang berwujud sunyi,sepi,kosong,dan hampa. Kemudian Tuhan paramasiwa atau Nirguna Brahma menjadikan dirinya sadasiwa atau saguna Brahma. Dalam keadaan demikian Tuhan telah menjadi atau berwujud. “purusa” dan “Prakti”. Purusa adalah unsur dasar yang bersifat kejiwaan atau rohani sedangkan Prakrti adalah unsur dasar unsur dasar yang bersifat kebendaan atau jasmani.purusa dan prakrti keduanya bersifat sangat halus.tidak dapat diamati dan tanpa permulaan. Kitab Bhagawad Gita menyebutkan sebagai berikut: Ketahuilah bahwa prakrti dan purusa kedua-duanya adalah tanpa permulaan dan ketahuilah juga bahwa segalah bentuk dan ketida guna lahir dari Prakrti.
Bhuwana agung dan Bhuwana alit saling melengkapi. Manusia, bintang dan tumbuh-tumbuhan hidup dan berkembang pada alam semesta. Alam semesta dapat memberikan hidup pada isinya akibat dari keterampilan atau kemampuan yang dimiliki oleh manusia,bintang dan tumbuh-tumbuhan. Alam semesta disebut bhuwana agung serta isi dari alam semesta disebut bhuwana alit. Bhuwana agung dan Bhuwana alit selalu mengalami proses yang disebabkan oleh tuhan. Menyadari akan segala peristiwa atau kejadian yang ada terjadi di dunia ini adalah diakibatkan oleh Tuhan. Karena beliaulah yang menciptakan dan mengendalikannya,seperti halnya adanya matahari yang terbit dari timur dan tenggelam dibarat sapi dan kambingyang selalu makan rumput dan dedaunan,kera makan buah-buahan begitu pula dengan keberadaan benda-benda lainya selalu berkaitan satu dengan yang lainnya.

2.1.3 Proses terjadinya Bhuwana Agung   
Menurut ajaran Agama Hindu dinyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari Bhatara Siwa, yang disebut juga Rudra. Proses terjadinya alam semesta ini dimulai dari tahapan yang sangat halus dan gaib (niskala), berevolusi ke tahap yang semakin kasar atau nyata (sekala). Disebutkan ada duabelas tahapan yang disebut “Tattwa rwawelas”.
Rudra merupakan asal mula alam semesta ini, beliau berkeadaan sunya (sepi). Dari Rudra muncullah Sang Purusa “Brahma” yang merupakan benih kehidupan bersifat nitya (abadi). Selain sifat Purusa muncul juga Awyakta (Pradhana atau Prakerti) yang bersifat material. Dari Awyakta (Wisnu) muncul Budhi yang bersifat sattwa sebagai asa kesadaran. Dari Budhi muncullah Ahamkara yang bersifat rajas sebagai asas individualis. Dari Ahamkara muncullah yang bersifat tamas yaitu Panca Tan Matra yang kemudian memunculkan Manah yang merupakan asas akal dan pikiran. Dari Manah muncullah Akasa yang bersifat sabda (suara). Dari Akasa muncullah Bayu yang bersifat sabda, sparsa (suara dan rabaan). Dari Bayu muncullah Agni yang bersifat sabda, rupa, rasa (suara, rupa dan rasa). Dari Agni muncullah Apah yang bersifat sabda, sparsa, rupa, rasa (suara, rabaan, rupa dan rasa). Dari Apah muncullah Perthiwi bersifat sabda, sparsa, rupa, rasa, dan gandha (suara, rabaan, rupa, rasa, dan bau) yang merupakan bagian dari Panca Tan Matra. Sedangkan Akasa, Bayu, Teja, Apah dan Perthiwi adalah bagian dari Panca Maha Butha.kedua unsure inilah yang membangun alam semesta. Tuhan menciptakan alam semesta berdasarkan Tapa yang memunculkan dua kekuatan yang saling melengkapi yaitu Purusa bersifat kejiwaan dan Prakerti bersifat kebendaan yang memunculkan zat yang sangat halus yaitu Citta yang berpengaruh pada Tri Guna yaitu Satwam bersifat bijaksana Rajas bersifat aktif dan Tamas bersifat gelap. Melalui Prakerti dan Tri Guna maka bergeraklah unsure-unsur yang menjadikan alam semesta seperti Pramanu, Akasa, Kola, dan Dik. Pramanu dan Akasa disebut juga Panca Maha Bhuta. Panca Maha Bhuta kemudian berevolusi terciptalah Brahmanda-Brahmanda dalam jagat raya, salah satu wujud Brahmanda adalah bumi. Bumi sebagai tempat hidup makhluk hidup yang diciptakan Tuhan meiliki beberapa lapisan, yaitu :
1.      Lapisan menuju ruang jagat raya disebut sapta Loka, diantaranya :a.       Bhur Loka (alam manusia),b. Bhuwah Loka (alam pitara),c.Swah Loka (alam dewa),d.Maha Kota,e.Jana Loka,f.Tapa Loka,g.Satya Loka (alam Nirguna Brahman).
2.      Lapisan menuju inti bumi (Kalagni Rudra) disebut Sapta Petala, diantaranya:  Atala, Vatala, Sutala, Talatala, Mahatala,Rasatala,Patala
Setelah alam semesta ini ada, bila Tuhan berkehendak maka yang ada di alam semesta ini akan kembali kepada-Nya. Saat itu disebut dengan Pralaya (Brahmanakta). Gambaran saat terjadinya Pralaya dikatakan bermula dari hancurnya ikatan kesatuan api (teja) lalu menyebar ke seluruh ruangan besar yang menyebabkan udara menjadi panas dan air menjadi menguap. Zat logam atau tanah huncur menjadi cair kemudian menjadi asap. Panca Maha Bhuta kembali menjadi atom-atom. Segala ruang dipenuhi hawa kemerah-merahan dengan gejolak yang hebat dan dentuman halilintar sambung-menyambung. Tuhan mengembalikan semua unsure alam melalui hokum-Nya yang disebut “Rta”. Demikianlah ajaran Agama Hindu menyebutkan proses terjadinya alam semesta dan saat Pralayanya alam semesta ini.


2.1.4 Unsur-unsur Bhuwana Agung
Sebelum terciptakannya alam semesta ini tidak ada apa-apa. Sebelum alam semesta yang diciptakan hanya Hyang Widhi yang ada. Maha Esa dan tidak ada duanya. Alam semesta yang diciptakan oleh Sang Hyang Widhi adalah merupakan wujud pancaran kemaha kuasaannya. Wibhuti adalah pancaran kemaha kuasa beliau melalui tapa. Tapa adalah pemusatan tenaga pikiran yang terkeram sehingga menimbulkan panas yang memancar.dengan tanpa beliau menciptakan alam semesta ini berserta dengan isinya. Penciptaan ini terjadi secara bertahap dari unsur yang sangat halus menjadi wujud yang keras dan kadar. Setelah semuanya ini tercipta, kedalam ciptaannya itulah beliau yang meresap menjadi satu.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terciptanya alam semesta “ Bhuwana Agung “ ini, terdiri dari berbagai macam unsur. Diantara unsur-unsur tersebut adalah
1.    Sang Hyang Widhi “ Brahmana , BhataraCiwa, Rudra”
2.    Tapa (pemusatan tenaga)
3.    Sang Purusa (Brahma)
4.    Awyakta (Wisnu)
5.    Manah (Alam pikiran)
6.    Buddhi (yang bersifat Sattwa)
7.    Ahamkara (yang bersifat Rajah)
8.    Pancatanmatra (Sabda,Sparsa,Rupa,Rasa,dan Gandha)Tanmatra
9.    Panca Mahabhuta (Akasa,Teja,Bayu,Apah,dan prthiwi)



2.1.5 Cloka dan mitologi yang menyatakan penciptaan Bhuwana Agung
Sebagai akibat adanya kerjasama antara purusa dan prakrti tersebut menyebabkan triguna menjadi tidak seimbang. Pada mulanya kekuatan satwan lebih besar dari rajas dan tamas maka lahirlah yang disebut “mahat “ yang berarti “Maha Agung” dari mahat ini kemudian munculah buddhi.budha adalah azas atau benih kejiwaan yang tertinggi. Fungsinya adlah untuk menentukan keputusan. Buddhi adlah bersifat satwan. Sehingga keputusanya tentu bersifat bijaksana.selanjutnya dari buddhi inilah lahir yang disebut dengan nama “ Ahamkara” yaitu azas kedirian atau indifiduasi .adapun fungsinya adalah untuk merasakan kemudian dari Ahamkara ini lahirnya yang disebut “Manas” yaitu akal dan pikiran yang berfungsi untuk berpikir.panca Tan Matra adalah lima unsur zat yang bersifat sangat halus yang terdiri dari :
1.    Sabda Tanmatra (sarisuara)
2.    Sparsa Tanmatra (sari rabaan)
3.    Rupa Tanmatra (sari warna)
4.    Rasa Tanmatra (sari rasa)
5.    Gandha Tanmatra (sari bau)

Dalam perkembangan selanjutnya dari unsur-unsur Panca Tan mantra ini muncul Panca Maha bhuta. Panca Maha bhuta adalah lima  macam unsur alam yang bersifat lebih kasar dario Pnca Tan Matra. Lima macam Panca Maha Bhuta tersebut adalah:

1.    Aska (ether atau ruang)
2.    Wayu (hawa atau udara)
3.    Teja (api)
4.    Apah (air)
5.    Prthiwi (tanah)


Unsur-unsur panca Maha Bhuta ini berevolusi serta menyempurnakan bentuknya maka terciptalah Brahmanda –Brahmanda. Di dalam ruang jagat raya ini keberadaan brahmanda-brahmanda tersebut sedemikian rupa banyaknya. Salah satu diantaranya adalah termasuk “bumi”. Bumi sebagai tempat makhluk hidup (manusia) keberadannya berlapis-lapis. Lapisan menuju ruang jagadraya disebut “Sapta Loka” yang terdiri dari :

1.    Bhur Loka (alam manusia)
2.    Bhuwah Loka (alam pitra)
3.    Swah Loka (alam dewa)
4.    Maha Loka
5.    Jana Loka
6.    Tapa Loka
7.    Satya Loka

Tingkatan-tingkatan lapisan tersebut di atas rejadi sebagai akibat dari kuat atau lemahnya menuju panas inti bumi atau “ Kalagni Rudra “ di sebut Sapta Patala yang terdiri dari :

1.    Patala (kulit bumi)
2.    Watala
3.    Nitala
4.    Maha-Tala
5.    Sutala
6.    Tala-tala
7.    Rasa Tala

2.1.6 Sebab-sebab terjadinya pralaya Bhuwana Agung

Pralaya dapat dinyatakan sebagai berikut: bermula dari hancurnya iktan kesatuan api atau matahari “teja” lalu menyebar keseluru ruangan besar yang mengakibatkan udra menjadi panas dan terus membara akibatnya “air” yang ada menjadi manguab dan habis. Dengan tidak adanya air , maka manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan semuanya mati. Zat logam atau batu “tanah” yaamg di bumi dan planet-planet lainya hancur menjadi cair, kemudian menjadi asap kena panas yang amat dahsyat. Panca  maha buta kembali menjadi “atom-atom” dalm wujud yang amat sangat kecil sekali .

2.2    Bhuwana Agung

2.2.1    pengertian Bhuwana Alit

Hidup dan berkehidupan diantara yang tercipta ternaksud manusia di alam semesta ini,satu dengan yang lainya sangat sulit untuk dapat dipisahkan. Karna sesungguh semua yang ada ini berasal dari sumber pencipta.unsur-unsur penciptanya pun diyakini berasal dari sumber bahan yang sama.keberadaa manusia (bhuwana alit) tidak dapt dipisaghkan dengan bhuwana agung.

2.2.2    Proses terciptanya Bhuwana Alit

Dijelaskan lebih lanjut, bahwa mahluk hidup yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa setelah terciuptanya alam semesta ini adalah sebagai berikut:
a.    Kelompok “Ekapramana” yaitu mahkluk hidup yang memiliki satu kekuatan dalam hidupnya yakni “Bayu”. Mahluk hidupoini juga dikenal dengan nama “Sthawara” yaitu mahluk hidup yang hidupnya tidak berpindah–pindah seperti tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan tergolong mahluk hidup yang hidupnya tidak berpindah-pindah atau diam dan  ditempat dan mempartahankan hidupnya dengan cara mengambil sari-sari makanamn dari dalam tanah. Tumbuh-tumbuhan yang mengembangkan hidupnya melalui: akar, batng, daun, biji atau buah dan yang  lainya. Dan yang targolong  “Sthawar” antara lain:

1.    Trana (bangsa rumput) baik yang hidup diair dan didarat
2.    Lata (bangsa tumbuhan yang menjalar) yang keadaan hidupnya menjalar pada tanah atau pohon yang lainnya.
3.    Taru (bangsa semak dan pepohonan)
4.    Gulma (bangsa pohon yang bagian luar pohon bersangkutan berkayu keras dan bagian dalamnya berongga tau kosong)
5.    Janggama (bangsa tumbuhan yang hidupnya menumpang pada pohon yang lain)
b.    Kelompok “Dwi Pramana “ adalah Makhluk hidup ini juga dikenal juga dengan sebutan “ Satwa” atau Sato.Satwa atau Sato adalah bangsa binatang pada umumnya bersifat buas, namun diantaranya ada juga yang bersifat jinak terutama yang mendapat pendekatan secara manusiawi. Adapun yang termasuk makhluk marga satwa atau sato yang diciptakan oleh Tuhan, adalah sebagai berikut :



1.    Swedaya (bangsa binatang satu sel) yang hidupnya diair atau pada tanah basah.
2.    Andaya (bangsa binatang yang bertelur) yang biasanya hidup diair, di darat maupum diatas pohon atau udara. Bangsa binatang yang dimaksud seperti : bangsa ikan, bangsa amphibi, bangsa ular dan bangsa burung.
3.    Jarayudha (bangsa binatang yang menyusui)yakni baik binatang pemakan rumput maupun binatang pemakan daging.
c.    Kelompok “ Tripramana “ adalah mahkluk yang memiliki tiga kekuatan dalam hidupnya seperti : Bayu,Sabda, dan Idep. Mahkluk hidup ini juga dikenal dengan sebutan “Manusya”. Manusya atau manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara ciptaanya, Dalam hidupnya manusia selain memiliki “ Tri Pramana “ juga dilengkapi dengan unsur-unsur yang lain seperti : pikiran,buddi,rasa dan lainya. Manusia sebagai mahkluk Tuhan yang paling sempurna diklasipikasikan sebagai berikut:
1.    Nara Merga (manusia binatang) Para seniman “Hindu” melukiskan keberadaan manusia ini seperti : “ Nara Singa” yaitu mahkluk hidup yang berbadan manusia dan berkepala “singa”. Sedangkan seniman lainya ada yang melukiskan sebagai “Mahkluk berkepala manusia berbadan binatang”. Manusia binatang adalah manusia yang masih memiliki pola berpikir seperti manusia hanya saja pada salah satu bagiann tubuhnya berwujud binatang.
2.    Wamana (Manusia Kerdil) Mahkluk hidup ciptaan Tuhan sebagaimana manusia hanya saja mereka memiliki postur tubuh lebih kecil dari pada manusia-manusia biasanya. Barang kali dapat ditafsirkan manusia seperti ini sebagai manusia yang memiliki pemikiran lebih kerdil dari manusia yang lainnya.
3.    Jatma “ Manusya “ adalah manusia yang sempurna yaitu manusia yang telah memiliki sikap mental: beriman,terbelajar,berbudhi luhur,cakap dan trampil, berkepribadian mandiri dan mantap serta bertanggung jawab terhadap sesama,masyarakat,nusa dan bangsa.

Selain tipe manusia seperti tersebut diatas, terdapat juga tipe-tipe manusia lainnya.tipe manusia yang dimaksud berdasarkan atas sifat dan jenis kelaminya,antara lain:
1.    Manusia laki-laki “Purusa” adalah manusia yang berjenis kelamin laki-laki dan dominan bersifat kelaki-lakian.
2.    Manusia perempuan “ Pradana” adalah manusia yang berjenis kelamin perempuan dan dominan yang bersifat kewanitaan.
3.    Manusia banci adalah manusia yang berjenis kelamin laki-laki dan bersifat perempuan atau manusia yang berjenis kelamin perempuan bersifat laki-laki.

2.2.3    Unsur unsur Bhuwana Alit
Unsur-unsur Panca Tan Matra seperti tersebut diatas selanjutnya mengalami evolusi yaitu perubahan-perubahan secara berlahan-lahan yang kemudian menjadi bentuk unsur-unsur “ Panca Mahabhuta” perubahan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a.    Sabda Tan Matra dapat berubah bentuk menjadi akasa atau ether dan dalam bentuk bhuwana alit berwujud rongga dada, rongga mulut dan segala ronggayang ada pada bhuwana alit tersebut. Perasaan marah, malu,kagum,ramah tamah, kikir dan nafsu birahi yang terjadi pada bhuwana alit sumber dari akasa atau ether.
b.    Sparsa Tan Matra dapat berubah bentuk menjadi bayu atau wayu dan dalam Bhuwana alit berwujud nafas dan udara. Bayu adalah benih-benih yang dalam bhuwana alit menjadi tenaga penggerakan seperti : Memegang ,bergerak untuk mengelolah badan,menarik, mendorong,dan melahirkan seperti tenaga pada saat melahirkan bayi.
c.    Rupa Tan Mantra dapat berubah bentuk menjadi teja yaitu zat panas dan dalam bentuk bhuwana alit berwujud panas badan, sinar mata yang segala panas certa bercahaya. Teja dalam bhuwana alit akan dapat menimbulkan: rasa tidur atau rasa ngantuk,rasa lapar,rasa giat untuk bangkit,rasa letih atau lelah,rasa malah dan yang lainnya
d.    Rasa Tan Matra dapat berubah bentuk menjadi apah yaitu buih-buih air yang dalam bhuwana alit dapat berwujud seperti : tulang belulang, otot,daging, dan segala yang bersifat padat. Gandha atau prthiwi dalam bhuwana alit dapat berubah menjadi tulang-belulang,urat-urat,kulit,kuku,dan rambut. Terkait dengan keberadaan sthula sarira atau badan kasar manusia juga disebutkan memiliki unsur-unsur yang lainnya seperti:
1.    Sad Kosa yaitu ; enam lapis pembungkus sthula sarira manusia,yang terdiri dari :
a.    Asti atau tawulan (tulang)
b.    Odwad (otot)
c.    Mamsa (daging)
d.    Rudhira (darah)
e.    Carma (kulit)
2.    Dasa Bayu atau Dasa Prana yaitu sepuluh macam udara dalam badan manusia yang terdiri dari ;
a.    Prana (udara pada paru-paru)
b.    Samana (udara pada pencernaan)
c.    Apana (udara pada pantat)
d.    Udana (udara pada kerongkongan)
e.    Byana (udara yang menyebar keseluruh tubuh)
f.    Naga (udara pada perut yang keluar dari saat mengempis)
g.    Kumara (udara yang keluar dari badan,tangan dan jari)
h.    Krakara (udara pada saat bersin)
i.    Dewadatta (udara sangat menguap)
j.    Dananjaya (udara yang memberi makan pada badan)

                                                                       BAB III

                                                                       PENUTUP

3.1    Kesimpulan

Bhuwana Agung adalah merupakan salah satu dari berbagai istilah yang dipergunakan dalam Agama Hindu untuk menyebutkan alam semesta atau alam raya ini. Bhuwana agung juga disebut dengan istilah “ Makro- kosmos,jagat raya, alam besar, Brahmanda”. Semua gugusan ,matahari, bintang, planet,bumi,bulan, dan yang menjadi isi alam semesta ini disebut Bhuwana Agung.  
Kitab Brhad Aranyaka Upanisad, menjelaskan bahwa Bhuwana Agung diciptakan oleh Tuhan. Ida Sang Hyang Widhi Wasa  yang bersifat abstrak atau niskala dilukiskan kan dalam wujud personifikasi sebagai alam semesta ini.
Hidup dan berkehidupan diantara yang tercipta ternaksud manusia di alam semesta ini,satu dengan yang lainya sangat sulit untuk dapat dipisahkan. Karna sesungguh semua yang ada ini berasal dari sumber pencipta.unsur-unsur penciptanya pun diyakini berasal dari sumber bahan yang sama.keberadaa manusia (bhuwana alit) tidak dapt dipisaghkan dengan bhuwana agung.

3.2    Saran

Adapun saran dari makalah ini adalah dalam makalah ini masih banyak kesalahan dalam penyusunan.Dalam makalah ini untuk itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan.




                                                                 DAFTAR PUSTAKA

Www.wordepress.com/2010/10/11/proses-terjadinya-bhuwana agung -atau alam semesta.
Www.jalanallah.com /statis -18-ajaran hindu 14html
Id.wikipedia.org./wiki/agama hindu.























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar